| Dwi Anugrah Mugia Utama | Bobotoh | Mountaineering | Vegetarian | Working Class | Partikel Bebas |

Rabu, Februari 23, 2011

Gunung Puntang Bandung

Stasiun Radio Malabar Gunung Puntang beserta kolam cinta tempoe doeloe

Sore ieu urang dua an… Sore ieu di gunung puntang…
Silih simbeuh kadedeuh… Sililh cantel pakait ati nu sajati…
Sore ieu urang jadikeun… Sore ieu urang tetepkeun…
Dua hate ngahiji… Asli na kudu ngajadi saeunyana…
Moal leeh kapanasan... Moal luntur kaibunan…
Moal laas kahujanan… Nyai... cinta urang duaan…

Penggalan lagu milik Asep Darso diatas memang sangat menggambarkan nuansa romantisme yang tercipta di Gunung Puntang,  sejak jaman dahulu sampai saat ini Gunung Puntang memang merupakan salah satu spot yang sangat menarik bagi pasangan muda-mudi untuk memadu kasih alias bobogohan. Selain mempunyai cita rasa romantisme yang cukup besar, di kawasan Gunung Puntang ini pun terdapat salah satu objek wisata yang lazim orang-orang sebut dengan kolam cinta. Sebenarnya kolam ini di awal pembentukan nya pada masa kolonial Belanda, hanya sebagai penghias gedung pemancar radio yang terdapat tepat di depan gedung tersebut. Namun entah mengapa dan mulai sejak kapan banyak kabar burung yang memberitakan bahkan telah  menjadi mitos yang berlangsung turun termurun. Jika pasangan muda-mudi berpacaran di kawasan kolam cinta tersebut akan melanggengkan hubungkan mereka (meskipun kawin na mah angger we jeung batur… hehehe), maka jangan heran dan kaget jika berkenjung ke kolam cinta tersebut banyak menemukan pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih ditemani celotehan dan candaan mereka yang terdengar lepas nyaris tanpa beban (saya iri dan dengki melihat mereka semua berpacaran hahahaha enjoy pisan sigana mangbro *just kidding).
Perjalanan menuju Gunung Puntang kali ini saya lakukan hanya bersama kedua teman saya Arfin dan Arizal karena secara kebetulan rekan-rekan yang lain nya tidak bisa ikut karena mereka semua memang sudah mempunyai rencana jauh-jauh hari sebelum nya.  Ya sudah lah tidak mengapa, karena menurut kesepakatan kita bersama jika ingin melakukan sebuah perjalanan minimal harus diikuti 3 orang, jika memang kurang lebih baik perjalanan di undur sampai waktu yang pas sehingga rekan-rekan yg lain nya bias berpartisipasi. Karena bagaimana pun semakin banyak orang yang ikut otomatis perjalanan pasti akan semakin seru. Perjalanan kita mulai dari Bandung pada saat itu sekitar pukul 10 pagi, dan entah kebetulan atau apa yang jelas kondisi jalan menuju TKP pada saat itu benar-benar sangat lancar. Kurang lebih kita habiskan waktu sekitar 2jam perjalanan menggunakan motor menuju Desa Cimaung Banjaran Kab.Bandung. 
Sekedar informasi Gunung Puntang sendiri berada di kawasan Bandung Selatan dan terletak pada ketinggian 1300 m dpl, konfigurasi lapangan pada umumnya bergelombang. Suhu udara 18 – 23 0 C. curah hujan 2000 – 2500 mm/tahun. Dan sedikit berbicara sejarah, dahulu di tengah-tengah hutan Gunung Puntang ini dibangun sebuah kompleks perkantoran dan perumahan dinas yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mungkin sangat lengkap pada masa itu bahkan pembangkit listrik nya pun tersedia. Perkantoran ini di kenal masyarakat internasional dengan nama Stasiun Radio Malabar Gunung Puntang. Maka jangan heran bila menemukan beberapa puing-puing gedung yang tersisa hanya tembok-tembok nya saja namun masih dilengkapi papan-papan yang terbuat dari plat besi sebagai penunjuk nama-nama siapa saja penghuni bangunan-bangunan tersebut, nama-nama khas Belanda  seperti Mr.Han Moo Key, Mr.Nelan, Mr.Vallaken, Mr.Bickman, Mr.Hodskey merupakan beberapa nama yang tercantum di plat besi yang menggantung di tembok bangunan sejarah. Bahkan di kawasan komplek Stasiun radio ini juga dilengkapi bangunan-bangunan pendukung lain nya seperti lapangan tenis, kolam renang, pertokoan bahkan bioskop. Stasiun Radio Malabar Gunung Puntang ini sendiri didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1919 dan konon stasiun radio ini merupakan stasiun radio terbesar pertama di kawasan Asia. Sebenarnya stasiun ini merupakan murni hanya sebuah pemancar sedangkan penerima nya ada di kawasan Padalarang dan Rancaekek. Karena dianggap teknologi nya masih boros energi, pada saat itu pemerintah kolonial Belanda membangun PLTA di kawasan Dago, PLTU di kawasan Dayeuhkolot dan PLTA di kawasan Pangalengan, lengkap dengan jaringan distribusinya hanya untuk memenuhi kebutuhan Stasiun Radio Malabar Gunung Puntang ini. Wow… coba bayangkan untuk mengirim sebuah siaran berita dari Belanda menuju negeri ini begitu pun sebaiknya harus membangun stasiun seperti ini beserta seluruh elemen nya, sangat kontras dengan jaman sekarang tinggal colok modem ke komputer atau pencet tombol ponsel. Jangan kan menuju negeri Belanda, kutub Utara dan Selatan sekalipun bisa kita jelajahi tanpa batas. Subhanallah…

Menurut informasi yang saya dapatkan dari hasil googling, baca buku-buku mengenai Bandoeng tempoe doeloe, maupun berbincang-bincang dengan masyarakat sekitar.  Semula obyek wisata Gunung Puntang ini pada saat ditemukan pertama kali oleh Bapak Utay Muchtar (tokoh sesepuh setempat) memiliki luas kurang lebih sekitar 51 hektar. Beliau sendiri sebenarnya menemukan tempat ini secara tidak sengaja, pada saat beliau sedang membersihkan ilalang di sekitar kawasan Gunung Puntang menemukan tanah yang pada saat itu sudah beraspal. Setelah ditelusuri ternyata ujung jalan tersebut merupakan bekas kompleks sebuah perkantoran. Pada saat ditemukan pun kompleks perkantoran tersebut kondisi nya memang sudah hancur karena konon struktur bangunan tersebut terbuat separuh dari kayu dan separuh nya lagi dari tembok. Setelah ditemukan maka berita penemuan bangunan bersejarah ini pun segera dilaporkan pada pihak Perhutani dan baru pada akhir tahun 1987 ini Gunung Puntang ini dibuka menjadi sebuah objek wisata sejarah sampai saat ini. Namun satu yang pasti sampai saat ini saya belum tau apa sebenarnya yang menjadi penyebab pasti mengapa kompleks Stasiun Radio Malabar Gunung Puntang ini sampai hancur kondisi nya seperti saat ini, karena secara kebetulan saya belum sempat menemukan bukti-bukti sejarah nya baik itu dari artikel-artikel yang bertebaran internet maupun buku-buku yang mengangkat sejarah kota Bandung seperti Wajah Bandung Tempoe Doeloe dan Semerbak bunga di Bandung Raya karangan Haryanto Kunto atau Jendela Bandung karya Her Suganda. Namun hasil dari berbincang-bincang dengan masyarakat sekitar Gunung Puntang, konon hancur nya bangunan bersejarah di kawasan ini sengaja dirusak oleh para pejuang Bangsa Indonesia pada saat itu dengan tujuan agar para penjajah/colonial Belanda tidak kembali dan menempati tempat asal nya termasuk kompleks Stasiun Radio Malabar Gunung Puntang ini. Bahkan masih menurut warga sekitar, perusakan bukan hanya dilakukan pada bangunan di sekitar Gunung Puntang saja tetapi sampai meruntuhkan jembatan Citarum – Dayeuhkolot sebagai akses utama menuju tempat ini. Wow… jika benar terbayang sebuah suasana crowded dan sangat dramatis pada saat itu, mungkin melebihi  kisah heroic seorang Sylvester Stallone dalam film Rambo 1-4, yang berjuang seorang diri di medan pertempuran melawan gerakan sparatis mulai dari Vietnam, Thailand-Burma, sampai Afganistan.



 Kembali pada petualangan kami ber tiga di Gunung Puntang, pada saat itu kami memutuskan untuk membuat tenda tepat di sebelah sungai yang mengalir sepanjang Gunung Puntang. Kami pun beruntung mendapatkan sebuat tempat yang sangat tepat untuk bermalam di Gunung Puntang. Selain tepat di sebelah aliran sungai space tenda kami pun tepat di belakang sebuah batu kali yang berukuran super besar, alasan kami memilih lokasi tersebut yaitu karena secara tidak langsung batu besar tersebut akan menutupi tenda kami dari terpaan angin besar pada saat malam hari karena angin dan hawa dingin akan melaju kencang tanpa penahan sedikit pun, karena di sepanjang aliran sungai tentu tidak tertutupi rimbunan pohon seperti mendirikan camp di tengah hutan. Namun alasan menghindari caah atau turun nya air bah besar dari atas pun menjadi alasan utama kami pada saat itu. Selesai mendirikan camp kami bertiga pun ngojay alias berenang di sepanjang aliran sungai yang begitu jernih nya. Gemericik air yang mengalir tanpa henti dari atas pun seakan menghipnotis kami bertiga seolah menjadi anak kecil, yang begitu bahagia ketika musim penghujan tiba dan bermain hujan-hujan an di sekitar an komplek tanpa memikirkan akibat yang didapat yaitu dimarahi orang tua ketika pulang ke rumah.  Tanpa terasa saking asik nya bermain air membuat kondisi perut meminta jatah nya untuk di isi ulang. Yah kami menyiapakan makan siang yang di rapel dengan makan malam, menu nya pun jauh dari kata istimewa hanya nasi liwet yang kondisi nya sedikit gosong ditemani telur asin, mie goreng, sedikit kripik dan sambel tarasi yang sengaja dibawa dari rumah. Tapi percaya lah menu sederhana malam itu bisa mengalahkan menu istimewa ala restoran masakan Sunda papan atas di lidah kami, karena selain rasa keakraban yang tercipta, suasana  gelap nya malam pun menjadi kredit point tersendiri, belum lagi suara gemericik air dan sedikit cahaya api unggun. Entah mengapa cuaca pun pada malam itu seolah sangat bersahabat dengan kami, tidak ada tanda sedikit pun akan turun nya hujan malam itu, padahal satu hari sebelum kami berangkat menuju Gunung Puntang, kota Bandung diguyur hujan habis-habisan. Tentu bintang-bintang pun malam hari itu bertebaran di angkasa seolah menyapa kedatangan kami di alam ini. “Hatur nuhun Gusti Pangeran…. nu tos masihan alam nu sakieu merenah na”.   


Selesai agenda acara makan malam, saya mencoba melaksanankan sesuatu yang saya sangat nanti-nanti kan dari sebelum berangkat ke tempat ini. Yakni melaksanakan shalat malam di atas sebuah batu besar yang letak nya di sekitaran sungai yang malam itu sangat bersahabat. Saya mendapatkan info ini dari seorang teman, dia berpesan jika kamu berkunjung ke Gunung Puntang jangan lupa untuk shalat di sekitaran sungai kalau bisa diatas sebuah besar, karena pasti memiliki sensasi tersendiri yang mungkin belum pernah kamu rasakan seumur hidup.
Ternyata apa yang dikatakan teman saya tidak salah sama sekali. Benar saja, mungkin pada saat itu terlepas diterima atau tidak nya ibadah saya oleh Allah SWT, tetapi satu yang pasti moment tersebut mungkin moment dimana saya melaksanakan shalat terkhusyu yang pernah saya lakukan se umur hidup. Shalat di atas sebuah batu besar hanya ditemani suara gemericik air dan suara burung-burung yang berdecit, ditambah hempaan angin malam yang sangat dingin. Tidak ada siapa pun hanya saya dan Allah SWT. Subhanallah……. Sangat luar biasa.

“Woi…… liat disini!”
“Disini bagus nih buat foto-foto…..”
“Byur……………!” Byur……..…….!”

Tiba-tiba terikan beberapa orang yang suara nya sangat asing di telinga membangunkan saya dari tidur, begitu melihat jam di tangan ternyata memang sudah jam 9 pagi, pantas saja tenda nya sudah sedikit panas. Begitu saya keluar tenda, saya melihat beberapa pemuda yang sedang asik bermain air di sekitaran tenda kami, ternyata mereka adalah rombongan dari salah satu Universitas swasta di kota Cilegon yang sedang melaksanakan acara kamping bersama kampus mereka.

Mungkin dosa terbesar kami bertiga saat itu yakni gagal nya rencana kami mengunjungi Curug Siliwangi, mungkin salah nya kami tidak mengunjungi Curug Siliwangi di hari pertama, karna menurut rencana kami  memang hanya nge camp satu malam saja. Lokasi Curug Siliwangi sendiri dari tempat kami nge camp harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki kurang lebih sekitar 2 jam, melewati jalan setapak dan sungai. Ya sudah lah memang belum jodoh nya kali ini kami mengunjungi tempat yang diyakini segelintir pihak mengandung tuah yang teramat sangat dan dijaga langsung oleh Prabu Siliwangi. Bahkan menurut kuncen Gunung Puntang Abah Iping, Curug Siliwangi terjadi ketika bocah yang akhirnya dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi buang air kecil dari atas Gunung Reregan. Maka tempat ini pun di anggap tempat yang paling keramat dibandingkan Cipangubusan atau sumber air keramat Geger Hanjuang tempat nya Prabu Siliwangi menghabiskan waktu istirahat dan Batu Pedang tempat dimana Prabu Siliwangi menyimpan pedang kesayangan nya. Bahkan konon berkat ilmu nya yang sangat tinggi, Prabu Siliwangi lebih memilih untuk berpindah ke alam lain tatkala berselisih faham dengan putra nya. Namun banyak orang yang meyakini sampai saat ini Prabu Siliwangi masih terus mengawasi keadaan yang terjadi di bekas tanah kerajaannya ini,  bahkan sesekali Prabu Siliwangi berubah wujud dalam bentuk yang lain nya, termasuk menjadi Harimau Putih. Insya Allah jika diberi kesempatan kembali oleh Allah SWT untuk mengunjungi Gunung Puntang, saya pasti tidak akan melewatkan moment berkunjung ke Curug Siiwangi.


Sisa-sisa keindahan kolam cinta
Rasa kecewa saya pada saat itu, saya coba luapakan dengan berfoto ria di beberapa objek wisata lain nya yang masih terdapat di kawasan wisata Gunung Puntang. Setelah selesai beres-beres, packing dan entah itu sarapan pagi atau makan siang kami pun memulai perjalanan sekaligus perjalanan pulang. Spot pertama yang kami datangi tentu saja sisa-sisa bangunan bersejarah Stasiun Radio Malabar Gunung Puntang beserta kolam cinta nya, sangat disayangkan kondisi kolam cinta sangat-sangat tidak terurus dan penuh dengan coretan-coretan tangan jahil, yah mau bagaimana lagi inilah objek wisata di Negara Indonesia jika sudah banyak dikunjungi orang, ke asri an nya lambat laut pasti akan berkurang. Setelah merasa puas kami pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah gua yang didirikan berbarengan dengan seluruh kompleks wisata di masa lalu ini.  Ternyata menurut warga sekitar gua ini ada dua buah dan yang satu dengan yang lain nya berhubungan, namun kami pada saat itu hanya menemukan satu gua saja. Sedangkan keberadaan gua yang satu nya lagi, kami tidak menemukan. Pada saat kami ingin memasuki gua ternyata senter yang kami bawa seluruh nya habis batre, gagal lah rencana kami masuk ke dalam gua Gunung Puntang. Namun menurut masyarakat sekitar jika ingin masuk ke gua tersebut harus memakai senter karena selain suasana yang gelap di gua tersebut banyak terdapat lalai alias kelelawar dan beberapa ular, yang jenis spesies nya saya tidak mengetahui karena jujur saya paling takut jika berhadapan dengan ular.  Kami pun hanya bisa berfoto-foto di pintu masuk gua tersebut, tapi meskipun kami hanya berdiam diri di depan pintu gua, udara lembab yang datang dari dalam gua sangat terasa bahkan bau nya sangat berbeda dengan kondisi di luar gua yang begitu sejuk. Oh ya masih menurut warga sekitar juga, dulu gua ini sempat dijadikan lokasi uji nyali oleh salah satu program bodoh TV yang katanya menguji nyali seseorang dengan berdiam diri semalam penuh di tempat yang dianggap menyeramkan. Rasanya sangat bodoh program salah satu TV swasta tersebut, sudah jelas jika selain alam manusia memang ada alam yang lain nya, jadi kenapa harus saling mengganggu. Kita saja sebagai manusia paling tidak senang jika hidup kita diganggu, mereka pun jelas sama. Nah loh kenapa saya jadi ngebahas acara ga berguna kaya begitu an disini ya, biarin lah itung-itung meluapakan unek-unek. Siapa tau aja ada salah satu anggota Komisi Penyiaran Indonesia ga sengaja buka blog ini hehehehe.

Sisa puing Stasiun Radio Malabar dengan background GunungMalabar
Gerbang Gua Gunung Puntang
Kami pun harus sesegera mungkin menyelesaikan acara foto session hari ini, selain karena memang sudah sore dan kebetulan langit sedikit mendung saat itu tanda akan turun hujan seperti nya. Belum kami pun harus berjalan kurang lebih satu jam lama nya untuk sampai ke tempat penyimpanan motor, di rumah saudara salah satu teman kami.

Gunung Puntang, jaga tempat mu baik-baik... tunggu saya datang kembali... menyapa mu... tersenyum pada mu…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar